Minggu, 07 Desember 2008

KOMPAS Cetak : Di Balik Musim Pancaroba

KOMPAS
Di Balik Musim Pancaroba
Kamis, 16 Oktober 2008 | 11:47 WIB

Oleh Anton Prasetyo

Sesuai jadwal, bulan Oktober tahun ini merupakan bulan awal musim hujan. Pasalnya, pergantian musim yang kita ketahui selama ini adalah bulan April dan Oktober. Terbukti di hari-hari Lebaran yang bertepatan dengan awal bulan Oktober ini, DI Yogyakarta beberapa kali diguyur hujan.

Pancaroba, entah dari bahasa mana dan bermakna apa, itulah kata orang-orang pintar dalam memberi nama pergantian musim seperti yang sedang terjadi di daerah kita sekarang. Yang jelas, di musim-musim pancaroba sebagaimana saat sekarang banyak yang harus diperhatikan. Kesehatan tubuh sering kali terganggu. Apalagi yang staminanya kurang, dapat dipastikan langsung meriang.

Hal lain, di sejumlah tempat, warga sibuk kerja bakti membersihkan sungai, selokan, dan seluruh saluran air yang ada. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi datangnya banjir. Tidak ada yang tahu kapan terjadinya hujan lebat yang membawa air banyak, sehingga jika saluran air tidak bersih akan menghambat arus air dan akhirnya air meluber ke daratan dan terjadi genangan air di rumah warga. Maka dari itu, kegiatan kerja bakti membersihkan saluran dirasa perlu, bahkan urgen bagi sebagian warga utamanya yang berada di dataran rendah.

Terkait musim pancaroba, nasib petani tadah hujan ternyata harus mendapat perhatian tersendiri. Ternyata kegembiraan tidaklah dirasakan oleh semua petani tadah hujan saat musim pancaroba datang. Saat-saat mereka harus menanam benih masih saja ada kendala. Hal ini sebagaimana penulis alami sehari bersama petani-dan bahkan artikel ini ditulis atas dasar keprihatinan diri penulis terhadap nasib petani tadah hujan yang sempat ditemui.

Sabtu, 11 Oktober 2008, di sebelah utara Terminal Giwangan Yogyakarta, penulis bertemu dengan dua petani tadah hujan asal Gunung Kidul. Sebut saja mereka adalah Pak Jumikir dan Tugiyanto. Penulis sempat tersentak kaget saat keduanya menanyakan tentang benih jagung. Mereka menginginkan salah satu produk benih jagung yang sudah familier bagi petani dan minta ditunjukkan yang menjualnya.

Ketersentakan penulis bukan masalah kenapa mereka menanyakan benih jagung kepada penulis yang tidak pernah tahu-menahu tentang itu. Namun, kenapa hanya untuk mendapatkan benih jagung yang mereknya sudah terkenal saja harus jauh-jauh dari Gunung Kidul ke Kota Yogyakarta. Padahal, alasan mereka bukannya permasalahan harga mahal atau apa, melainkan tidak ada yang menjualnya.

Akhirnya, penulis memutuskan untuk mengantarkan mereka ke sejumlah koperasi unit desa (KUD), koperasi, dan toko pertanian di daerah Bantul dan Kota Yogyakarta. Namun, ternyata hasilnya nihil. Ternyata benar, sejumlah KUD, koperasi, dan toko pertanian di Bantul dan Kota Yogyakarta yang kami kunjungi tidak ada yang menjual benih jagung yang dimaksud. Mereka rata-rata berkata kehabisan stok dan barang belum datang.

Sebagai langkah akhir, mereka berdua penulis ajak ke Dinas Pertanian Yogyakarta untuk menggali informasi bersama-sama. Pihak Dinas Pertanian memberikan informasi orang-orang yang mengurusi benih jagung yang dimaksud dan nomor kontaknya. Benar, selepas kami dari Dinas Pertanian kami langsung menghubungi orang-orang yang dimaksud. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sebagai distributor benih jagung yang dimaksud. Saat kami menghubunginya, ternyata bernasib sama. Para distributor juga tidak memberi jawaban memuaskan, mereka tidak memiliki stok benih jagung.

Tidak tega melihat mereka berdua dalam kegelisahannya karena belum juga mendapatkan benih jagung, padahal musim hujan sudah tiba, penulis mengajak mereka untuk mendatangi salah satu koperasi pertanian di daerah Bantul. Dan baru setelah perjalanan melelahkan itulah, penulis dapat melihat senyum ceria kedua petani tersebut karena di koperasi yang kami tuju tersedia benih jagung yang mereka butuhkan.

Tidak hanya itu, permasalahan belum selesai karena ternyata benih jagung yang tersedia, yang tahun lalu berkisar Rp 40.000 per kilogram, kini melonjak hingga lebih dari Rp 60.000 per kilogram. Padahal, sesuai dengan keterangan kedua petani tersebut, harga jual jagung yang mereka tanam berdasar pengalaman tahun-tahun yang lalu harganya berkisar Rp 1.000 per kilogram. Jika lebih tidaklah begitu banyak.

Nasib petani

Dari realita semacam itu, analisis kasar saja menunjukkan usaha petani untuk menghasilkan untung dari pertaniannya sangat kecil. Jika saja dalam hitungan sedikit, para petani ini menanam jagung satu kilogram dengan harga pembelian Rp 60.000, sementara mereka panen dengan jumlah 200 kilogram dengan harga jual Rp 1.000 per kilogram sehingga menghasilkan uang (Rp 1.000 x 200 = Rp 200.000), berarti mereka masih menyisakan uang Rp 140.000 (Rp 200.000-Rp 60.000). Sementara untuk membeli pupuk, obat, mencangkul, menyiangi, dan seluruh perawatan hingga panen dan siap jual, cukupkah dengan biaya Rp 140.000? Penulis tidak yakin terhadap jawaban "cukup". Bahkan, penulis yakin biaya yang ada lebih dari jumlah uang yang ada. Itu saja jika panen yang dihasilkan mencapai 200 kali lipat dari jumlah tanamnya.

Kiranya nasib nelangsa petani dan buruhnya tidak lagi diragukan. Mereka yang harus menjadi tumpuan hidup setiap orang ternyata belum mendapat perhatian yang semestinya. Betapa kita teganya membiarkan nasib mereka terus merana, politik pertanian yang hanya untuk mengkongkalikong petani terus saja digencarkan. Ingat, tanpa adanya kongkalikong politik, nasib petani sudah merana, kenapa mereka tidak pernah diberi angin segar?

Untuk saat sekarang, pihak-pihak berwenang memang sudah tidak bisa banyak bergerak. Harga benih memang sudah tinggi dan mayoritas petani tadah hujan sudah membelinya. Kendati demikian, bukan berarti tidak lagi punya tugas. Harga pupuk, obat, dan harga jual hasil pertanian haruslah berpihak pada petani adalah tugas pihak-pihak berwenang (dalam hal ini pemerintah) untuk merealisasikannya. Ringkas kata, mari kita bersama-sama mendukung kesejahteraan petani sesuai dengan kedudukan dan kemampuan kita masing-masing. Wallahu A'lam.

ANTON PRASETYO Koordinator Litbang Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Nurul Ummah Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar